Jakarta, 9 September 2026 – Anggapan bahwa makan nanas atau minum soda selama kehamilan dapat langsung menyebabkan keguguran masih banyak beredar di masyarakat. Kekhawatiran biasanya semakin besar ketika kedua makanan dan minuman tersebut dikonsumsi pada trimester pertama. Namun, secara medis tidak ada bukti kuat bahwa mengonsumsi nanas dalam porsi makanan normal atau sesekali minum soda secara langsung menyebabkan keguguran pada kehamilan yang sehat. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi Fadhilah Akhdasari menegaskan anggapan mengenai nanas sebagai pemicu keguguran merupakan mitos. Meski demikian, bukan berarti ibu hamil dapat mengonsumsi soda dalam jumlah berlebihan karena kandungan gula dan kafein tertentu tetap perlu diperhatikan.
Mitos mengenai nanas dan keguguran terutama muncul karena buah tropis tersebut mengandung bromelain. Enzim ini mempunyai kemampuan memecah protein dan dalam bentuk tertentu sering dikaitkan dengan perubahan pada jaringan serta proses pembekuan darah. Dari kondisi tersebut kemudian berkembang anggapan bahwa bromelain dapat memicu kontraksi rahim hingga menyebabkan keguguran. Padahal, jumlah bromelain yang diperoleh dari mengonsumsi daging buah nanas dalam porsi normal relatif rendah. Bukti klinis juga belum menunjukkan konsumsi nanas sebagai makanan dalam jumlah wajar dapat menyebabkan keguguran.
Hal yang perlu dibedakan adalah mengonsumsi nanas sebagai buah dengan menggunakan bromelain dalam bentuk suplemen berkonsentrasi tinggi. Suplemen bromelain tidak dapat disamakan dengan beberapa potong nanas yang dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan sehari-hari. Konsentrasi zat aktif dalam suplemen dapat jauh berbeda dibandingkan jumlah yang diperoleh secara alami melalui makanan. Karena itu, ibu hamil sebaiknya tidak mengonsumsi suplemen bromelain tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Prinsip serupa berlaku terhadap berbagai suplemen herbal atau produk konsentrat lain selama kehamilan.
Nanas sendiri mengandung sejumlah nutrisi yang dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang selama kehamilan. Buah tersebut menyediakan vitamin C, serat, cairan, serta sejumlah mineral yang dibutuhkan tubuh. Kandungan serat dapat membantu memenuhi kebutuhan makanan berserat yang penting selama kehamilan, sementara vitamin C berperan dalam berbagai fungsi tubuh. Namun, konsumsi berlebihan dapat menimbulkan ketidaknyamanan pada sebagian orang karena nanas mempunyai tingkat keasaman cukup tinggi. Ibu hamil yang mengalami refluks asam lambung atau sensasi terbakar pada dada mungkin perlu menyesuaikan porsinya.
Sementara itu, soda mempunyai persoalan yang berbeda. Karbonasi atau gelembung dalam minuman bersoda bukanlah faktor yang diketahui secara langsung menyebabkan keguguran. Hal yang lebih perlu diperhatikan adalah komposisi minuman tersebut, terutama kandungan gula dan kafein pada beberapa jenis soda. Konsumsi minuman tinggi gula secara berlebihan dapat meningkatkan asupan kalori tanpa memberikan banyak zat gizi penting. Kebiasaan tersebut juga kurang ideal selama kehamilan, terutama pada ibu yang perlu mengendalikan kenaikan berat badan atau kadar gula darah.
Beberapa jenis minuman soda, terutama cola, mengandung kafein sehingga jumlah yang diminum perlu diperhitungkan bersama sumber kafein lainnya. Kafein juga dapat berasal dari kopi, teh, cokelat, minuman energi, dan sejumlah produk lainnya. Pedoman kesehatan kehamilan umumnya menyarankan konsumsi kafein tidak melebihi sekitar 200 miligram per hari. Sebagai gambaran, satu kaleng cola dapat mengandung sekitar 40 miligram kafein, meskipun jumlah sebenarnya berbeda berdasarkan produk dan ukuran kemasan. Karena itu, ibu hamil perlu membaca informasi kandungan pada kemasan apabila rutin mengonsumsi minuman berkafein.
Pembatasan kafein mempunyai dasar yang berbeda dari mitos bahwa gelembung soda dapat menggugurkan kandungan. Sejumlah penelitian observasional menemukan hubungan antara asupan kafein yang semakin tinggi selama kehamilan dan peningkatan risiko kehilangan kehamilan. Namun, hubungan tersebut tidak berarti satu kaleng soda akan menyebabkan seseorang mengalami keguguran. Risiko dipengaruhi jumlah total kafein yang dikonsumsi serta berbagai faktor kesehatan lainnya. Karena itu, pendekatan yang lebih tepat adalah mengendalikan total konsumsi kafein daripada menganggap seluruh minuman bersoda sebagai penyebab langsung keguguran.
Keguguran sendiri merupakan kondisi yang relatif umum pada awal kehamilan dan penyebabnya sering kali tidak berhubungan dengan makanan tertentu yang baru saja dikonsumsi. Sekitar separuh keguguran dini berkaitan dengan kelainan kromosom yang membuat embrio tidak berkembang sebagaimana mestinya. Usia ibu yang semakin tinggi dan riwayat keguguran sebelumnya juga termasuk faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko. Kondisi kesehatan tertentu dapat memberikan pengaruh tambahan pada perjalanan kehamilan. Karena itu, menghubungkan keguguran dengan satu makanan atau minuman yang dikonsumsi beberapa jam atau hari sebelumnya dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru.
Kesalahpahaman mengenai makanan penyebab keguguran juga berpotensi membuat ibu hamil membatasi pola makan secara tidak perlu. Selama tidak terdapat kondisi kesehatan atau larangan khusus dari dokter, pola makan selama kehamilan sebaiknya tetap beragam dan memenuhi kebutuhan nutrisi. Buah yang telah dicuci dan dipersiapkan dengan baik umumnya menjadi bagian penting dari pola makan tersebut. Perhatian justru perlu diberikan pada makanan yang mempunyai risiko kontaminasi mikroorganisme, produk mentah atau tidak matang sempurna, serta jenis makanan tertentu yang memang direkomendasikan untuk dibatasi selama kehamilan. Keamanan makanan menjadi sama pentingnya dengan kandungan nutrisinya.
Ibu hamil juga tidak perlu panik apabila tanpa sengaja telah makan nanas atau minum soda sebelum mengetahui berbagai anjuran mengenai pola makan selama kehamilan. Mengonsumsi beberapa potong nanas atau satu porsi minuman bersoda tidak berarti kehamilan akan mengalami masalah. Hal yang dapat dilakukan adalah memperhatikan pola konsumsi berikutnya dan memastikan kebutuhan nutrisi sehari-hari tetap terpenuhi. Untuk minuman, air putih dapat dijadikan pilihan utama agar kebutuhan cairan tercukupi tanpa tambahan gula maupun kafein. Soda sebaiknya ditempatkan sebagai minuman sesekali, bukan sumber utama cairan setiap hari.
Kondisi berbeda berlaku apabila ibu hamil mengalami tanda-tanda yang mengarah pada komplikasi kehamilan. Perdarahan dari vagina, nyeri atau kram perut yang berat, keluarnya cairan atau jaringan dari vagina, pusing berat hingga kehilangan kesadaran membutuhkan evaluasi tenaga kesehatan. Perdarahan ringan pada awal kehamilan memang tidak selalu berarti keguguran, tetapi penyebabnya tetap perlu diperiksa terutama apabila disertai nyeri. Pemeriksaan ultrasonografi dan tes tertentu dapat digunakan dokter untuk menilai perkembangan kehamilan. Mencoba menentukan penyebab sendiri berdasarkan makanan terakhir yang dikonsumsi justru dapat menunda pemeriksaan yang dibutuhkan.
Pada akhirnya, tidak ada dasar ilmiah kuat untuk menyebut makan nanas dalam porsi normal dan minum soda sesekali sebagai penyebab langsung keguguran. Nanas pada umumnya dapat dikonsumsi selama kehamilan selama porsinya wajar dan tidak menimbulkan keluhan tertentu. Soda juga tidak menyebabkan keguguran hanya karena mengandung karbonasi, tetapi kandungan gula dan terutama kafeinnya tetap perlu dibatasi. Ibu hamil dianjurkan menjaga total kafein tidak lebih dari sekitar 200 miligram per hari serta mengutamakan makanan bergizi dan air putih. Apabila kehamilan termasuk berisiko tinggi atau terdapat kondisi medis tertentu, pengaturan makanan dan minuman sebaiknya disesuaikan berdasarkan rekomendasi dokter yang menangani.




