Jakarta, 8 September 2026 – Pemanfaatan biomassa di Indonesia didorong semakin luas dan tidak hanya digunakan sebagai bahan bakar pendamping batu bara melalui skema co-firing di pembangkit listrik. Sumber energi berbasis bahan organik tersebut dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi berbagai produk energi bernilai tambah, mulai dari BioCNG atau compressed biomethane, biogas, bahan bakar cair, hingga hidrogen hijau. Diversifikasi tersebut dipandang penting untuk mempercepat transisi energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. Indonesia memiliki sumber biomassa yang besar dari sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, serta berbagai jenis limbah organik. Tantangan berikutnya adalah membangun rantai pasok dan teknologi pengolahan agar potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dan ekonomis.
Pengembangan biomassa menjadi perhatian karena Indonesia menghasilkan berbagai residu organik dalam jumlah besar setiap tahun. Limbah kelapa sawit, sekam padi, jerami, tongkol jagung, limbah kayu, sampah organik, hingga kotoran ternak memiliki potensi untuk diolah menjadi sumber energi. Selama ini sebagian material tersebut belum dimanfaatkan secara optimal dan bahkan dapat menjadi persoalan lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Pemanfaatannya sebagai energi memungkinkan limbah memperoleh nilai ekonomi baru sekaligus membantu mengurangi emisi dari pengelolaan residu yang tidak terkendali. Pendekatan tersebut juga membuka peluang membangun ekonomi sirkular di daerah penghasil biomassa.
Salah satu jalur yang dinilai memiliki prospek besar adalah pengembangan BioCNG. Bahan bakar tersebut diperoleh dari biogas yang dimurnikan sehingga memiliki kandungan metana tinggi, kemudian dikompresi agar lebih mudah disimpan dan didistribusikan. BioCNG dapat dimanfaatkan sebagai pengganti sebagian kebutuhan gas fosil pada industri maupun sektor transportasi tertentu. Bahan bakunya dapat berasal dari limbah cair kelapa sawit, kotoran ternak, sampah organik, maupun residu lain yang dapat mengalami proses biologis. Dengan sumber bahan baku lokal, pengembangan BioCNG berpotensi memperkuat ketahanan energi sekaligus menciptakan pasar baru bagi limbah organik.
Industri kelapa sawit menjadi salah satu sektor yang memiliki peluang besar dalam pengembangan tersebut. Limbah cair pabrik kelapa sawit atau palm oil mill effluent dapat menghasilkan biogas melalui proses penguraian tanpa oksigen. Gas yang sebelumnya berpotensi terlepas ke atmosfer kemudian dapat ditangkap dan dimanfaatkan sebagai sumber energi. Setelah melalui proses pemurnian, biogas dapat ditingkatkan kualitasnya menjadi biometana dan kemudian dikompresi menjadi BioCNG. Pemanfaatan tersebut memberikan dua keuntungan sekaligus, yakni menyediakan energi dan mengurangi pelepasan metana yang memiliki efek pemanasan global jauh lebih kuat dibandingkan karbon dioksida dalam periode tertentu.
Selain BioCNG, biomassa juga dapat dikembangkan sebagai salah satu jalur produksi hidrogen rendah karbon. Material organik dapat diproses melalui berbagai teknologi, termasuk gasifikasi, untuk menghasilkan gas yang kemudian diolah lebih lanjut menjadi hidrogen. Dalam pengembangannya, aspek sumber bahan baku, teknologi, energi yang digunakan selama produksi, dan tingkat emisi keseluruhan perlu diperhitungkan secara ketat. Pemerintah dan industri perlu memastikan klaim hidrogen hijau maupun rendah karbon didukung metode produksi yang sesuai standar. Hal tersebut penting agar pengembangan hidrogen benar-benar memberikan manfaat terhadap target dekarbonisasi nasional.
Hidrogen sendiri diproyeksikan memiliki peran semakin besar dalam transisi energi karena dapat digunakan pada sektor yang relatif sulit dialiri listrik secara langsung. Industri pupuk, petrokimia, baja, transportasi berat, hingga penyimpanan energi jangka panjang menjadi beberapa sektor yang berpotensi memanfaatkan hidrogen. Indonesia memiliki peluang mengembangkan industri tersebut dengan mengombinasikan sumber energi terbarukan dan ketersediaan bahan baku domestik. Biomassa dapat menjadi salah satu bagian dari ekosistem tersebut apabila proses produksinya mampu memenuhi standar keberlanjutan. Pengembangan teknologi dalam negeri juga diperlukan agar biaya produksi dapat ditekan dan ketergantungan terhadap teknologi impor berkurang.
Selama beberapa tahun terakhir, pemanfaatan biomassa di sektor kelistrikan lebih banyak dikenal melalui program co-firing pada pembangkit listrik tenaga uap. Dalam skema tersebut, biomassa dicampurkan dengan batu bara dalam proporsi tertentu untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Program ini memungkinkan pembangkit yang sudah beroperasi memanfaatkan energi terbarukan tanpa harus melakukan perubahan sistem secara menyeluruh. Namun, pengembangan biomassa tidak dapat berhenti pada co-firing karena nilai tambah yang dapat dihasilkan jauh lebih luas. Pengolahan menjadi bahan bakar gas, cair, bahan kimia, dan hidrogen dapat menciptakan rantai industri baru dengan manfaat ekonomi lebih besar.
Pengembangan biomassa juga memiliki potensi memberikan dampak langsung terhadap perekonomian daerah. Rantai pasok membutuhkan pengumpulan, pemilahan, pengeringan, pengolahan, penyimpanan, hingga transportasi bahan baku dari sumber produksi menuju fasilitas energi. Aktivitas tersebut dapat membuka peluang usaha baru bagi koperasi, badan usaha milik desa, petani, perusahaan lokal, dan pelaku usaha mikro kecil. Limbah pertanian yang sebelumnya tidak memiliki nilai tinggi dapat menjadi komoditas apabila tersedia pasar energi yang konsisten. Dengan tata kelola yang tepat, transisi energi dapat sekaligus menjadi instrumen untuk menciptakan sumber pendapatan baru di daerah.
Meski potensinya besar, pengembangan biomassa menghadapi tantangan terutama dalam menjaga kepastian pasokan dan keberlanjutan bahan baku. Biomassa memiliki karakter tersebar, volumenya besar, dan dalam beberapa kasus memiliki kadar air tinggi sehingga biaya pengangkutan dapat menjadi mahal. Kualitas bahan baku juga tidak selalu seragam dan dapat berubah mengikuti musim produksi. Infrastruktur pengumpulan serta fasilitas pengolahan karena itu perlu ditempatkan sedekat mungkin dengan sumber biomassa untuk meningkatkan efisiensi. Model bisnis yang mampu memberikan kepastian harga kepada pemasok sekaligus menjaga keekonomian pengguna energi menjadi faktor penting dalam pengembangan industri tersebut.
Aspek keberlanjutan juga harus menjadi perhatian agar peningkatan permintaan biomassa tidak memicu persoalan baru. Pemanfaatan residu dan limbah perlu diprioritaskan dibandingkan pembukaan lahan baru hanya untuk menghasilkan bahan bakar. Pengambilan residu pertanian secara berlebihan juga harus dihindari karena sebagian material organik dibutuhkan untuk menjaga kesuburan tanah dan siklus nutrisi. Pemerintah perlu membangun sistem sertifikasi dan pelacakan bahan baku agar asal biomassa dapat diketahui secara jelas. Dengan standar tersebut, pengurangan emisi yang diklaim dari penggunaan biomassa dapat dihitung secara lebih akurat berdasarkan keseluruhan siklus hidupnya.
Diversifikasi biomassa menuju BioCNG, biogas, bahan bakar rendah karbon, dan hidrogen pada akhirnya dapat menjadi bagian penting dari strategi transisi energi Indonesia. Keberhasilan pengembangannya akan bergantung pada ketersediaan bahan baku berkelanjutan, kesiapan teknologi, kepastian pasar, infrastruktur, serta regulasi yang mendukung investasi. Pemanfaatan residu domestik juga memberikan peluang untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi persoalan limbah dan menciptakan aktivitas ekonomi baru di daerah. Dengan pengembangan yang terukur, biomassa tidak lagi hanya dipandang sebagai bahan tambahan untuk pembangkit berbasis batu bara. Sumber daya tersebut dapat berkembang menjadi fondasi industri energi rendah karbon yang membantu Indonesia menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.




