Jakarta, 1 September 2026 – Kebangkitan Marc Marquez dalam persaingan MotoGP 2026 ternyata tidak membuat kubu Aprilia panik. CEO Aprilia Racing Massimo Rivola justru melihat performa kuat pembalap Ducati tersebut sebagai bagian dari persaingan yang harus dihadapi dengan memperbaiki kekuatan tim sendiri. Marc menunjukkan peningkatan signifikan setelah sempat mengalami periode sulit pada awal musim. Kebangkitan itu kembali terlihat jelas pada MotoGP Aragon 2026, ketika Marc berhasil memenangi sprint dan balapan utama. Hasil tersebut membuat persaingan perebutan gelar juara dunia semakin ketat.
Marc tampil sangat dominan sepanjang akhir pekan di MotorLand Aragon. Ia memenangi sprint setelah melakukan manuver agresif terhadap Marco Bezzecchi sejak tikungan pertama dan kemudian mampu mempertahankan posisi terdepan hingga finis. Pada balapan utama, pembalap Ducati itu kembali menunjukkan kecepatannya dengan menyalip Bezzecchi pada lap keenam sebelum mengendalikan jalannya perlombaan. Kemenangan tersebut menjadi kemenangan ketiga Marc secara beruntun di Aragon dan membuatnya semakin dekat dengan pemimpin klasemen. Setelah seri tersebut, Marc berada di posisi kedua klasemen dengan 237 poin, hanya tertinggal 19 poin dari Jorge Martin yang mengendarai Aprilia.
Kondisi tersebut tentu menjadi perhatian serius bagi Aprilia karena dua pembalapnya, Martin dan Bezzecchi, berada di barisan terdepan dalam perebutan gelar. Bezzecchi bahkan berhasil merebut pole position di Aragon dengan memecahkan rekor lintasan sebelum akhirnya finis ketiga dalam balapan utama. Martin juga masih memimpin klasemen meskipun kehilangan sejumlah poin setelah finis kelima. Dengan demikian, Aprilia masih memiliki posisi kuat dalam persaingan kejuaraan. Kehadiran Marc yang kembali menemukan ritme terbaik justru membuat persaingan menjadi semakin menarik.
Rivola sebelumnya telah menegaskan bahwa Aprilia tidak seharusnya terlalu sibuk memikirkan kebangkitan Marc. Menurutnya, prioritas utama tim Italia tersebut adalah memastikan performa pembalapnya sendiri tetap maksimal. Pernyataan itu muncul ketika Marc mulai kembali menunjukkan kecepatannya setelah meraih kemenangan beruntun di Hungaria dan Ceko. Aprilia saat itu juga menghadapi periode sulit karena sejumlah insiden yang membuat Bezzecchi dan Martin kehilangan poin penting. Rivola menilai tim harus terlebih dahulu membereskan persoalan internal sebelum memikirkan ancaman dari rival.
Sikap tersebut menunjukkan kepercayaan diri Aprilia terhadap perkembangan motor RS-GP. Tim Italia itu telah menunjukkan performa kompetitif sepanjang musim dan mampu menempatkan beberapa pembalapnya di papan atas klasemen. Bezzecchi menjadi salah satu pembalap yang konsisten menunjukkan kecepatan, sementara Martin juga berhasil mempertahankan posisi teratas dalam perebutan gelar. Kinerja tersebut membuat Aprilia tidak perlu mengubah pendekatan hanya karena Marc kembali menemukan performa terbaiknya. Mereka cukup memastikan para pembalap mampu memaksimalkan setiap kesempatan mencetak poin.
Kebangkitan Marc sendiri tidak datang secara tiba-tiba. Pembalap asal Spanyol itu sempat mengalami masalah fisik dan kesulitan mendapatkan performa terbaik pada beberapa seri awal musim. Setelah menjalani proses pemulihan, performanya mulai meningkat dan ia kembali menjadi salah satu kandidat kuat dalam perebutan gelar. MotoGP Aragon menjadi bukti terbaru bahwa Marc masih memiliki kecepatan untuk memenangkan balapan secara dominan. Hasil tersebut sekaligus menghapus sebagian keraguan mengenai peluangnya mempertahankan gelar juara dunia.
Persaingan Marc dengan Aprilia juga semakin menarik karena bukan hanya Martin yang menjadi pesaing utama. Bezzecchi juga masih memiliki peluang besar dalam perebutan gelar setelah menunjukkan performa impresif sepanjang musim. Bahkan sebelum Aragon, sejumlah pembalap Aprilia telah mengakui bahwa Marc tidak boleh dikeluarkan dari persaingan kejuaraan meski sempat tertinggal jauh pada awal musim. Situasi tersebut kini terbukti karena Marc mampu memangkas jarak secara signifikan. Dengan banyak seri yang masih tersisa, perbedaan poin dapat berubah dengan cepat.
Bagi Aprilia, kebangkitan Marc dapat menjadi motivasi untuk terus meningkatkan performa. Persaingan ketat dengan Ducati membuat setiap kelemahan harus segera diperbaiki karena kesalahan kecil dapat berdampak besar terhadap klasemen. Martin dan Bezzecchi juga dituntut menjaga konsistensi agar keunggulan Aprilia tidak tergerus. Tim perlu mengoptimalkan motor sekaligus memastikan kedua pembalap mampu menghindari kesalahan yang tidak perlu. Tekanan tersebut justru dapat membuat persaingan internal Aprilia semakin kompetitif.
Dengan kondisi klasemen yang semakin rapat, MotoGP 2026 memasuki fase yang semakin menentukan. Marc kini telah kembali ke jalur kemenangan, sementara Martin masih memegang kendali atas puncak klasemen dan Bezzecchi terus mengancam dari belakang. Aprilia pun memilih menghadapi situasi tersebut dengan fokus pada kekuatan sendiri ketimbang panik melihat kebangkitan rival. Strategi itu menjadi penting karena musim masih panjang dan setiap seri dapat mengubah peta persaingan. Kebangkitan Marc pada akhirnya bukan hanya ancaman bagi Aprilia, tetapi juga menjadi bukti bahwa perebutan gelar MotoGP 2026 masih terbuka lebar.





