Jakarta, 13 Oktober 2026 – Aktris sekaligus penyanyi Mawar De Jongh mengungkapkan bahwa dirinya memiliki kecenderungan menjadi seorang people pleaser, yakni seseorang yang berusaha menyenangkan orang lain meskipun terkadang harus mengesampingkan kebutuhan pribadi. Pengakuan tersebut menjadi perhatian karena Mawar mengaitkan pengalaman pribadinya dengan karakter yang diperankan dalam sebuah film. Melalui proses mendalami tokoh, ia memperoleh kesempatan untuk memahami perilaku dan perasaan yang memiliki kemiripan dengan kehidupannya. Pengalaman berakting tersebut menjadi bagian dari perjalanan Mawar dalam belajar mengenali kebutuhan diri sendiri. Kisah ini juga membuka pembahasan mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara kepedulian terhadap orang lain dan kesehatan emosional.
Kecenderungan people pleaser umumnya ditandai dengan keinginan kuat untuk mendapatkan penerimaan serta menghindari kekecewaan orang lain. Seseorang dengan kebiasaan tersebut dapat merasa kesulitan menolak permintaan, bahkan ketika dirinya sedang membutuhkan waktu untuk beristirahat. Dalam kehidupan sehari-hari, perilaku ini terkadang dianggap sebagai bentuk keramahan dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Namun, apabila dilakukan secara berlebihan, kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang mengabaikan batasan pribadi. Pengalaman yang disampaikan Mawar memperlihatkan bahwa persoalan semacam ini juga dapat dialami figur publik yang terbiasa berinteraksi dengan banyak orang.
Sebagai aktris, Mawar De Jongh memiliki kesempatan mengeksplorasi berbagai karakter dengan latar belakang dan persoalan emosional yang berbeda. Proses mendalami peran tidak hanya menuntut kemampuan menghafal dialog, tetapi juga memahami motivasi serta konflik batin tokoh yang dimainkan. Ketika karakter memiliki pengalaman yang terasa dekat dengan kehidupan pribadi, proses tersebut dapat memunculkan refleksi mengenai kebiasaan dan cara seseorang menghadapi masalah. Bagi Mawar, keterkaitan antara karakter film dan kecenderungannya menyenangkan orang lain menjadi pengalaman yang bermakna. Hal tersebut menunjukkan bagaimana pekerjaan kreatif dapat memberikan ruang untuk melihat persoalan pribadi dari sudut pandang berbeda.
Mawar dikenal sebagai salah satu aktris muda Indonesia yang telah membintangi berbagai produksi film dan serial. Kemampuannya membawakan karakter dengan latar emosi beragam menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya di industri hiburan. Dalam proses berakting, seorang pemain perlu memahami alasan di balik tindakan tokoh agar cerita dapat disampaikan secara meyakinkan. Pendekatan tersebut dapat membuat aktor mempelajari berbagai bentuk hubungan manusia, termasuk konflik antara keinginan pribadi dan tuntutan lingkungan. Pengalaman inilah yang dapat membuka kesempatan untuk memahami persoalan emosional secara lebih mendalam.
Kebiasaan menjadi people pleaser sering berkaitan dengan kekhawatiran terhadap penolakan atau keinginan mempertahankan hubungan baik. Seseorang mungkin merasa bersalah ketika harus mengatakan tidak, meskipun permintaan yang diterima berada di luar kemampuannya. Dalam jangka panjang, pola tersebut dapat menimbulkan kelelahan emosional apabila kebutuhan pribadi terus-menerus diabaikan. Meski demikian, istilah people pleaser bukan merupakan diagnosis gangguan mental tertentu. Perilaku tersebut lebih tepat dipahami sebagai pola hubungan interpersonal yang dapat dipengaruhi pengalaman, lingkungan, dan cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Belajar menetapkan batasan pribadi menjadi salah satu langkah yang dapat membantu seseorang mengurangi kecenderungan menyenangkan orang lain secara berlebihan. Batasan tersebut dapat berupa kemampuan menolak permintaan dengan sopan, menyampaikan pendapat secara terbuka, dan mengenali kapasitas diri. Menetapkan batasan bukan berarti mengabaikan perasaan orang lain, melainkan menjaga agar hubungan tetap berlangsung secara sehat. Seseorang tetap dapat menunjukkan empati tanpa harus selalu mengorbankan waktu, tenaga, atau kebutuhan emosionalnya. Proses perubahan biasanya membutuhkan latihan dan kesadaran karena kebiasaan yang telah terbentuk lama tidak selalu mudah diubah.
Dalam dunia hiburan, tuntutan profesional juga dapat menghadirkan tantangan tersendiri bagi individu yang memiliki kecenderungan people pleaser. Figur publik sering berhadapan dengan ekspektasi penggemar, rekan kerja, dan lingkungan profesional yang memiliki kebutuhan berbeda. Situasi tersebut dapat membuat seseorang merasa harus selalu menunjukkan sikap positif atau memenuhi harapan pihak lain. Padahal, setiap individu tetap membutuhkan ruang untuk beristirahat dan menentukan keputusan berdasarkan kondisi pribadinya. Kemampuan mengelola ekspektasi menjadi penting agar tuntutan pekerjaan tidak mengganggu keseimbangan kehidupan pribadi.
Pengalaman Mawar dalam memahami dirinya melalui karakter film juga memperlihatkan hubungan antara seni peran dan proses refleksi pribadi. Cerita dalam film sering menghadirkan persoalan yang dekat dengan kehidupan penonton, seperti hubungan keluarga, persahabatan, penerimaan diri, dan tekanan sosial. Ketika seorang aktor mendalami konflik tersebut, ia dapat memperoleh perspektif baru mengenai cara manusia menghadapi situasi tertentu. Namun, pengalaman emosional selama berakting tidak dapat disamakan dengan terapi psikologis yang dilakukan oleh tenaga profesional. Apabila pola perilaku tertentu menimbulkan tekanan berkepanjangan, berkonsultasi dengan psikolog dapat menjadi pilihan untuk memperoleh pendampingan yang sesuai.
Pengakuan Mawar De Jongh mengenai kecenderungannya menjadi people pleaser memberikan gambaran bahwa proses mengenali diri sendiri dapat berlangsung melalui berbagai pengalaman, termasuk pekerjaan di dunia seni. Perannya dalam film menjadi kesempatan untuk merefleksikan kebiasaan yang selama ini memengaruhi cara berinteraksi dengan orang lain. Kesadaran terhadap kebutuhan dan batasan pribadi merupakan langkah penting untuk membangun hubungan yang lebih seimbang. Pengalaman tersebut juga dapat menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap orang lain sebaiknya berjalan beriringan dengan penghargaan terhadap diri sendiri. Melalui proses pembelajaran yang berkelanjutan, seseorang dapat mengembangkan cara berhubungan yang lebih sehat tanpa kehilangan sikap empati kepada lingkungan sekitarnya.




