Jakarta, 3 Oktober 2026 – Tanggal 3 Oktober menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian sejarah Indonesia pada 1965. Pada 3 Oktober 1965, lokasi jenazah tujuh anggota TNI Angkatan Darat yang kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi ditemukan di sebuah sumur tua di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Penemuan tersebut berlangsung setelah pencarian dilakukan menyusul peristiwa penculikan dan pembunuhan sejumlah perwira Angkatan Darat. Proses evakuasi kemudian dilanjutkan hingga seluruh jenazah berhasil diangkat pada 4 Oktober 1965.
Pencarian terhadap para perwira dilakukan sejak 1 Oktober 1965. Salah satu petunjuk penting berasal dari Agen Polisi Dua Sukitman, anggota kepolisian yang sebelumnya ikut terbawa dalam rangkaian penculikan dan kemudian berhasil meloloskan diri. Informasi yang diperoleh mengarahkan pasukan menuju kawasan Lubang Buaya, tidak jauh dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Penelusuran di kawasan tersebut akhirnya menemukan sebuah sumur tua yang dicurigai menjadi lokasi jenazah para korban.
Sumur tersebut memiliki kedalaman sekitar 12 meter dengan diameter kurang lebih 75 sentimeter. Kondisi lubang yang sempit serta posisi jenazah di dalamnya membuat proses pengangkatan tidak mudah dilakukan. Upaya evakuasi telah dimulai pada 3 Oktober, tetapi keterbatasan perlengkapan dan kondisi di lapangan menyebabkan proses tersebut belum dapat diselesaikan pada hari yang sama. Pengangkatan kemudian dilanjutkan keesokan harinya dengan melibatkan personel KKO Angkatan Laut dan RPKAD.
Ketujuh korban tersebut adalah Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal R. Suprapto, Mayor Jenderal M.T. Haryono, Mayor Jenderal S. Parman, Brigadir Jenderal D.I. Panjaitan, Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, serta Letnan Satu Pierre Andreas Tendean. Mereka kemudian memperoleh penghormatan negara sebagai Pahlawan Revolusi. Nama-nama tersebut hingga kini menjadi bagian penting dalam catatan sejarah mengenai pergolakan politik dan keamanan Indonesia pada 1965.
Pada 4 Oktober 1965, seluruh jenazah akhirnya berhasil dikeluarkan dari sumur Lubang Buaya. Tim evakuasi menghadapi kondisi sulit karena ruang sumur yang sempit dan jenazah telah berada di dalamnya selama beberapa hari. Setelah proses pengangkatan selesai, jenazah dibawa untuk menjalani penanganan dan identifikasi lebih lanjut. Pada malam harinya, ketujuh jenazah ditempatkan di Aula Departemen Angkatan Darat di Jalan Merdeka Utara, Jakarta.
Sehari kemudian, pada 5 Oktober 1965, ketujuh korban dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Pemakaman berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Para korban kemudian dikenang sebagai Pahlawan Revolusi dan nama mereka diabadikan dalam berbagai fasilitas publik serta monumen. Rangkaian penemuan pada 3 Oktober hingga pemakaman pada 5 Oktober menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia setelah peristiwa Gerakan 30 September.
Lokasi sumur tempat ditemukannya para korban kini berada di kompleks Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Sumur tersebut dipertahankan sebagai bagian dari situs bersejarah dan telah termasuk dalam kawasan cagar budaya peringkat nasional. Setiap 3 Oktober, peristiwa penemuannya kembali mengingatkan masyarakat pada rangkaian sejarah 1965 yang meninggalkan dampak besar terhadap perjalanan politik Indonesia. Situs Lubang Buaya juga menjadi ruang pembelajaran sejarah, dengan kajian mengenai peristiwa 1965 terus berkembang melalui berbagai penelitian dan sumber sejarah.





