Jakarta, 14 Mei 2026 – Saham IDX:INET masih berada dalam tekanan meski perusahaan terus agresif melakukan ekspansi anorganik sepanjang 2026. Emiten infrastruktur telekomunikasi tersebut aktif melakukan akuisisi dan pengembangan bisnis baru, namun pergerakan harga sahamnya justru belum menunjukkan penguatan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Langkah terbaru perusahaan adalah rencana akuisisi terhadap PT Sarana Global Indonesia atau SGI yang bergerak di bidang kabel bawah laut dan EPC telekomunikasi. Sebelumnya, INET juga telah mengakuisisi PT Personel Alih Daya Tbk dan PT Trans Hybrid Communication sebagai bagian dari strategi memperluas lini bisnis digital dan infrastruktur jaringan.
Meski ekspansi terlihat agresif, pasar tampaknya masih menunggu bukti konkret dari kemampuan perusahaan dalam mengeksekusi proyek-proyek besar tersebut. Investor disebut masih berhati-hati karena ekspansi yang terlalu cepat juga berpotensi meningkatkan kebutuhan pendanaan dan risiko integrasi bisnis dalam jangka pendek.
Pergerakan harga saham INET sendiri sempat mengalami lonjakan tajam pada akhir 2025 sebelum akhirnya terkoreksi cukup dalam pada awal 2026. Saham ini pernah menyentuh level tertinggi di kisaran Rp700 hingga Rp900, namun kemudian turun signifikan akibat aksi ambil untung dan kekhawatiran pasar terhadap kemampuan realisasi proyek besar perusahaan.
Di sisi lain, secara fundamental perusahaan sebenarnya menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat. Kinerja keuangan INET pada 2025 mengalami lonjakan signifikan dengan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih yang tinggi dibanding tahun sebelumnya. Segmen internet service provider dan pengembangan infrastruktur fiber optic menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan bisnis perseroan.
Manajemen perusahaan juga optimistis proyek kabel bawah laut dan ekspansi data center dapat menjadi mesin pertumbuhan baru dalam beberapa tahun ke depan. INET bahkan menargetkan pertumbuhan pendapatan hingga dua kali lipat pada 2026 seiring mulai berjalannya sejumlah proyek strategis di sektor telekomunikasi dan konektivitas digital.
Namun pengamat pasar modal menilai prospek saham INET tetap sangat bergantung pada kemampuan perusahaan menjaga arus kas, menyelesaikan integrasi akuisisi, serta merealisasikan proyek-proyek besar sesuai target. Pasar cenderung lebih berhati-hati terhadap saham dengan ekspansi agresif apabila belum sepenuhnya diimbangi realisasi pendapatan yang stabil dan berkelanjutan.
Meski masih volatile, sebagian analis menilai INET tetap memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang karena bergerak di sektor infrastruktur digital yang masih berkembang pesat di Indonesia. Namun untuk saat ini, investor disebut masih menunggu pembuktian lebih lanjut bahwa strategi ekspansi besar-besaran perusahaan benar-benar mampu diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba yang konsisten dan bukan sekadar narasi pasar semata.







