Jakarta, 17 September 2026 – Ketegangan antara China dan Filipina di Laut China Selatan kembali meningkat setelah kapal Penjaga Pantai China dan kapal pemerintah Filipina terlibat tabrakan di perairan sengketa dekat Kepulauan Spratly. Filipina menuduh kapal China CCG-21585 menabrak BRP Datu Magat Salamat yang dioperasikan Biro Perikanan dan Sumber Daya Perairan Filipina. Kapal Filipina tersebut sedang menjalankan misi patroli sekaligus mengirimkan subsidi bahan bakar kepada nelayan Filipina. China memberikan versi berbeda dengan menyatakan kapal Filipina mengabaikan peringatan dan melakukan perubahan arah yang menyebabkan tabrakan. Insiden tersebut tidak dilaporkan menimbulkan korban luka, tetapi bagian kapal Filipina mengalami sejumlah kerusakan. Perbedaan keterangan kedua negara kembali memperlihatkan tingginya risiko konfrontasi di kawasan yang menjadi sengketa tersebut.
Juru bicara Penjaga Pantai Filipina Jay Tarriela mengatakan insiden bermula ketika kapal China melakukan manuver di sekitar BRP Datu Magat Salamat. Sekitar pukul 11.04 waktu setempat, CCG-21585 disebut melintas di belakang kapal Filipina dengan jarak sekitar 10 meter. Sembilan menit kemudian, kapal China disebut kembali melakukan manuver serupa hingga akhirnya terjadi kontak dengan bagian kanan kapal Filipina. Awak BRP Datu Magat Salamat sempat diperingatkan untuk bersiap menghadapi benturan beberapa saat sebelum kedua kapal bersentuhan. Filipina menilai jarak yang sangat dekat antara kedua kapal menciptakan situasi berbahaya bagi seluruh awak. Setelah benturan terjadi, kapal China juga disebut kembali melintas di belakang kapal Filipina dengan jarak hanya sekitar lima meter.
Tabrakan tersebut menyebabkan sejumlah bagian BRP Datu Magat Salamat mengalami kerusakan. Pagar pengaman di sisi kanan kapal terlihat bengkok, patah atau terlepas setelah benturan. Beberapa struktur penyangga logam juga mengalami deformasi, sementara perlengkapan di bagian dek bergeser akibat dampak tabrakan. Pecahan dan bagian perlengkapan terlihat berserakan di area dek setelah kejadian. Meski demikian, tidak terdapat laporan mengenai awak yang mengalami luka dalam insiden tersebut. Penjaga Pantai Filipina kemudian mengerahkan aset laut dan udara menuju lokasi untuk memberikan bantuan serta memastikan keselamatan seluruh awak kapal.
Filipina menyebut kejadian berlangsung sekitar 54 mil laut dari pantai Provinsi Palawan dan sekitar 6,36 mil laut di sebelah utara-barat laut Abad Santos Shoal. Manila menyatakan lokasi tersebut berada di dalam zona ekonomi eksklusif Filipina berdasarkan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut. BRP Datu Magat Salamat saat itu sedang menjalankan misi penyaluran bahan bakar kepada nelayan Filipina agar mereka dapat terus melakukan aktivitas penangkapan ikan. Pemerintah Filipina mengategorikan kegiatan tersebut sebagai misi yang berkaitan dengan dukungan terhadap mata pencaharian nelayan. Manila kemudian menuding manuver kapal China telah membahayakan kapal sipil pemerintah dan para awaknya. Penjaga Pantai Filipina menyatakan kegiatan pendampingan terhadap misi perikanan di kawasan itu akan tetap dilanjutkan.
China membantah tuduhan Filipina dan memberikan kronologi yang berbeda mengenai penyebab tabrakan. Penjaga Pantai China menyatakan pihaknya sedang melakukan operasi penegakan hukum di sekitar Xianbin Jiao, nama yang digunakan Beijing untuk Sabina atau Escoda Shoal. Menurut China, kapal Filipina telah berulang kali mendapatkan peringatan tetapi tetap melanjutkan pergerakannya. Beijing menuduh kapal Filipina tiba-tiba mengubah arah, meningkatkan kecepatan dan memotong bagian depan kapal Penjaga Pantai China hingga menyebabkan kontak. China menyatakan kapalnya menjalankan operasi secara profesional dan sesuai ketentuan yang diklaim berlaku di kawasan tersebut. Beijing kemudian menyebut Filipina bertanggung jawab atas terjadinya tabrakan dan meminta Manila menghentikan aktivitas yang dianggap sebagai provokasi.
Lokasi insiden merupakan bagian dari Laut China Selatan yang telah lama menjadi sumber perselisihan antara kedua negara. China mengklaim sebagian besar kawasan tersebut, sementara Filipina mempertahankan hak maritimnya berdasarkan zona ekonomi eksklusif yang dihitung dari garis pantainya. Putusan arbitrase internasional pada 2016 menyatakan tidak terdapat dasar hukum bagi klaim hak historis China terhadap sumber daya di sebagian besar wilayah yang berada dalam sembilan garis putus-putus. China menolak putusan tersebut dan tetap mempertahankan klaim serta kehadiran kapal penjaga pantainya. Filipina sebaliknya terus menggunakan keputusan arbitrase tersebut sebagai salah satu dasar untuk menegaskan hak maritimnya. Perbedaan posisi itu membuat pertemuan kapal kedua negara berulang kali berujung pada manuver jarak dekat dan konfrontasi.
Ketegangan di Laut China Selatan kembali meningkat dalam beberapa bulan terakhir setelah periode yang relatif lebih tenang. Manila sebelumnya menuduh kapal China menggunakan meriam air terhadap kapal pemerintah Filipina di sekitar Scarborough Shoal. Konfrontasi juga pernah terjadi di sekitar Second Thomas Shoal yang menjadi lokasi pos militer Filipina di atas kapal perang lama BRP Sierra Madre. Kedua negara beberapa kali melakukan pembicaraan untuk mengelola perbedaan dan mencegah insiden berkembang menjadi konflik yang lebih luas. Namun, aktivitas kapal penjaga pantai, kapal perikanan dan kapal pemerintah di kawasan sengketa tetap menciptakan risiko benturan. Setiap insiden baru kemudian meningkatkan tekanan terhadap mekanisme komunikasi yang telah dibangun Beijing dan Manila.
Tabrakan terbaru kembali menunjukkan besarnya risiko salah perhitungan di Laut China Selatan ketika kapal kedua negara beroperasi dalam jarak sangat dekat. Filipina telah memerintahkan pengiriman bantuan kepada BRP Datu Magat Salamat sekaligus memastikan misi dukungan terhadap nelayan tetap berjalan. China pada saat yang sama mempertahankan bahwa tindakannya merupakan bagian dari operasi penegakan hukum dan menyalahkan kapal Filipina atas kejadian tersebut. Belum terdapat indikasi bahwa insiden menyebabkan korban jiwa maupun eskalasi militer langsung. Namun, kerusakan pada kapal dan perbedaan tajam mengenai penyebab tabrakan berpotensi kembali meningkatkan ketegangan diplomatik antara Manila dan Beijing. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada langkah kedua pemerintah dalam menangani insiden sekaligus mencegah konfrontasi serupa berkembang menjadi benturan yang lebih serius.







