Lumajang, 10 Oktober 2026 – Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali mengalami erupsi pada Sabtu malam, 10 Oktober 2026. Aktivitas vulkanik gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut masih berlangsung di tengah laporan sejumlah letusan yang sebelumnya disertai suara gemuruh. Erupsi terbaru tercatat terjadi sekitar pukul 19.33 WIB berdasarkan pemantauan aktivitas gunung api. Kondisi visual letusan tidak dapat diamati secara jelas, tetapi aktivitasnya berhasil direkam melalui peralatan seismograf. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan rawan bencana diimbau meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi rekomendasi keselamatan.
Berdasarkan hasil pemantauan, erupsi pada malam hari tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 23 milimeter dan durasi sekitar 144 detik. Data kegempaan menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih berlangsung secara berulang. Selama periode pengamatan pukul 12.00 hingga 18.00 WIB, tercatat 27 kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo antara 10 hingga 24 milimeter. Durasi gempa letusan dalam periode tersebut berkisar antara 65 hingga 136 detik. Catatan ini menunjukkan perlunya pemantauan intensif terhadap perkembangan aktivitas gunung api.
Gunung Semeru saat ini masih berada pada status Level III atau Siaga berdasarkan penilaian aktivitas vulkanik. Status tersebut menunjukkan adanya potensi bahaya yang membutuhkan perhatian serius, khususnya bagi masyarakat yang beraktivitas di kawasan sekitar gunung. Aktivitas erupsi dapat menghasilkan material vulkanik berupa abu, batuan, maupun guguran yang bergerak mengikuti kondisi lereng. Dalam beberapa kejadian sebelumnya, letusan Semeru juga disertai suara gemuruh dengan intensitas berbeda. Namun, informasi mengenai suara gemuruh pada erupsi pukul 19.33 WIB masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan agar masyarakat tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak. Kawasan tersebut memiliki risiko terdampak aktivitas vulkanik, termasuk awan panas dan material guguran. Di luar jarak tersebut, masyarakat juga diminta menjauhi area dalam radius 500 meter dari tepi sungai sepanjang Besuk Kobokan. Wilayah tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak. Pembatasan aktivitas diperlukan untuk mengurangi risiko terhadap keselamatan warga maupun pengunjung.
Selain kawasan Besuk Kobokan, sejumlah aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru juga perlu mendapat perhatian. Wilayah Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat termasuk kawasan yang memiliki potensi terdampak material vulkanik. Ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi, material hasil erupsi yang menumpuk di lereng dapat terbawa aliran air dan memicu banjir lahar. Kondisi tersebut dapat membahayakan masyarakat yang berada di sekitar sungai maupun jalur aliran material. Karena itu, warga diharapkan tidak mendekati kawasan berisiko meskipun aktivitas gunung terlihat lebih tenang.
Aktivitas Gunung Semeru dalam beberapa hari terakhir menunjukkan frekuensi erupsi yang perlu terus diwaspadai. Pada Jumat, 9 Oktober 2026, gunung tersebut mengalami letusan dengan kolom abu mencapai sekitar 700 meter di atas puncak. Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak mengikuti arah angin. Aktivitas tersebut menjadi salah satu rangkaian erupsi yang berlangsung sepanjang pekan. Perubahan intensitas letusan dapat terjadi sehingga informasi pemantauan terbaru menjadi penting bagi masyarakat sekitar.
Pemerintah daerah bersama instansi penanggulangan bencana memiliki peranan penting dalam memastikan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi aktivitas vulkanik Semeru. Penyampaian informasi mengenai perkembangan erupsi perlu dilakukan secara cepat agar warga memahami kondisi terkini. Jalur evakuasi, lokasi pengungsian, serta sarana komunikasi darurat juga perlu dipastikan dapat digunakan apabila terjadi peningkatan ancaman. Masyarakat diharapkan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi karena dapat menimbulkan kebingungan. Kesiapan bersama menjadi faktor penting dalam mengurangi dampak bencana terhadap keselamatan dan aktivitas masyarakat.
Erupsi Gunung Semeru pada Sabtu malam kembali mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap aktivitas gunung api yang masih berada pada status Siaga. Pemantauan secara berkelanjutan diperlukan untuk mengetahui perkembangan kegempaan, aktivitas letusan, serta potensi bahaya di kawasan lereng. Warga diminta tetap mematuhi batas zona berbahaya dan menghindari aktivitas di sepanjang aliran sungai yang berpotensi dilalui material vulkanik. Hingga informasi lebih lanjut tersedia, belum dapat dipastikan adanya dampak langsung maupun korban akibat erupsi terbaru tersebut. Dengan koordinasi yang baik antara petugas dan masyarakat, risiko akibat aktivitas Gunung Semeru diharapkan dapat ditekan semaksimal mungkin.




