Jakarta, 26 September 2026 –
Charles De Ketelaere menikmati keberhasilan Belgia menaklukkan Italia 2-0 pada pertandingan pertama Grup A1 UEFA Nations League 2026-2027. Bermain di Stadio Olimpico, Roma, Sabtu, 26 September 2026 dini hari WIB, Belgia membawa pulang tiga poin melalui gol Mika Godts dan Dodi Lukebakio. De Ketelaere menyebut hasil tersebut terasa istimewa karena didapat di stadion yang sulit dengan menghadapi lawan berkualitas. Kemenangan ini sekaligus memberikan awal positif bagi Belgia dalam persaingan grup yang juga dihuni Prancis dan Turki.
Belgia memperlihatkan keberanian bermain menyerang sejak awal pertandingan. Godts membuka keunggulan pada menit ke-20 setelah menerima umpan Kevin De Bruyne sebelum menaklukkan Gianluigi Donnarumma. Gol tersebut membuat Belgia semakin percaya diri memainkan sepak bola dengan intensitas tinggi dan berusaha tidak memberikan Italia terlalu banyak waktu mengembangkan serangan. De Ketelaere menilai penampilan pada babak pertama menjadi salah satu bagian terbaik dari permainan timnya. Tekanan yang diberikan Belgia berhasil membuat tuan rumah kesulitan menemukan ritme permainan.
Italia mencoba memberikan respons setelah tertinggal, terutama dengan meningkatkan tekanan selepas turun minum. Namun, Belgia mampu mempertahankan organisasi permainan sekaligus menunggu kesempatan melakukan serangan balik. Strategi tersebut membuahkan hasil ketika Lukebakio mencetak gol kedua pada menit ke-69 dan semakin memperberat tugas Gli Azzurri. Roberto Mancini mengakui Italia sebenarnya mempunyai kesempatan untuk mencetak gol, tetapi timnya harus membayar mahal ketika Belgia mendapatkan ruang dalam transisi. Efektivitas memanfaatkan momentum akhirnya menjadi pembeda utama dalam pertandingan tersebut.
Bagi De Ketelaere, kemenangan di Roma memiliki nilai lebih karena Italia tetap merupakan salah satu tim dengan tradisi besar di sepak bola Eropa. Belgia juga datang dengan perubahan penting setelah Mark van Bommel mengambil alih posisi pelatih dan mendapatkan tugas membangun generasi baru Setan Merah. Pertandingan melawan Italia menjadi laga kompetitif pertama Van Bommel sebagai pelatih Belgia. Sebelum pertandingan, mantan gelandang AC Milan tersebut menegaskan keinginannya melihat Belgia bermain dengan karakter kuat. Respons para pemain kemudian terlihat melalui permainan agresif dan disiplin yang menghasilkan kemenangan dua gol tanpa balas.
Kemenangan tersebut juga memperlihatkan kontribusi pemain dari generasi berbeda dalam skuad Belgia. De Bruyne tetap menjadi figur penting dalam mengatur permainan dan menciptakan peluang, sementara Godts memberikan energi baru di sektor serang. De Ketelaere sendiri menawarkan fleksibilitas karena mampu bergerak di beberapa posisi ofensif dan membantu menghubungkan lini tengah dengan lini depan. Kombinasi pengalaman serta pemain yang sedang berkembang menjadi salah satu modal Van Bommel dalam membentuk tim barunya. Pertandingan di Roma memberikan gambaran awal mengenai pendekatan yang ingin diterapkan Belgia sepanjang Nations League.
Hasil tersebut berbanding terbalik dengan situasi Italia yang sedang memulai kembali perjalanan bersama Mancini. Sang pelatih kembali menangani Gli Azzurri dengan membawa sejumlah pemain baru setelah Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2026. Sebelum menghadapi Belgia, Mancini mengatakan timnya ingin memainkan sepak bola yang menarik sekaligus mendapatkan hasil untuk membangun kembali kepercayaan diri. Kekalahan pada pertandingan pertama menunjukkan proses tersebut masih membutuhkan waktu, terutama dalam menjaga keseimbangan ketika kehilangan bola. Italia kini harus segera melakukan evaluasi karena jadwal Nations League berlangsung padat dengan empat pertandingan dalam rentang 11 hari.
Bagi Belgia, kemenangan 2-0 di Stadio Olimpico menjadi awal yang ideal untuk membangun momentum di Grup A1. De Ketelaere dan rekan-rekannya tidak hanya memperoleh tiga poin, tetapi juga membuktikan mampu tampil efektif ketika menghadapi salah satu kekuatan besar Eropa di kandangnya sendiri. Tantangan berikutnya adalah mempertahankan intensitas dan konsistensi karena fase liga masih panjang dan setiap poin akan berpengaruh terhadap persaingan menuju babak berikutnya. Van Bommel memiliki fondasi positif untuk melanjutkan proses regenerasi tim setelah kemenangan pada pertandingan pertamanya. Itulah yang membuat hasil di Roma terasa istimewa bagi De Ketelaere sekaligus menjadi pembuka menjanjikan bagi perjalanan baru Belgia.





